Rabu, 06 Januari 2016

puisi (9)



“PEJALAN KAKI”
Karya: Fakta P. B. 



Permisi... ijinkan kami lewat
Dengan tenang, di jalan ini
Kami para pejalan punya hak di sini
Tolonglah... kalian jangan menganggu
Hanya beberapa menit saja kami berjalan
Lewati lalu-lalang dan kepulan asap
yang tak hentinya mengisi keseharian
dalam laju kendaraan di atas aspal...

            Permisi... biar kami berjalan
            Di atas kepala, lampu merah masih berkuasa
            Untuk kalian yang berkendara dan mengejar waktu
            Mungkin saja problem kita di pagi itu sama
            Berusaha membunuh sepi yang ada dalam hari kita semua...
            Sebagai manusia.



03-10-2015
*terinspirasi dari cerita Bu Starlita—dosen PKN-ku—saat beliau di jalan*

Puisi (8)



“SEBUAH TANYA”
Karya: Fakta P. B.


Sejak lama tatapmu bekukan deru nafasku
Entah sampai kapan ku kan begini
Saat ku jatuh, kau bagikan peluk yang hangat
Canda... tawa...
Kau alirkan di nadiku dan sekejap buatku terbangun
            Ku jadi tersadar
            Bahwa engkaulah satu bagiku
            yang membagi ketulusan dalam diri
            tanpa pernah membohongi
Ku jadi tersadar
Mungkin saat ini hanya engkau yang ku tuju
Berpancar kasih yang ku idamkan
            Tatapmu... Pelukmu... Ketulusanmu...
            Terus hadirkan keingintahuan
            dan ada tanya dalam relung hatiku:
            “kapan kau jadi milikku?”
Ya, itu saja. . .


1 januari 2016
*inspirasi dari lagu “Tanyaku” oleh SO7*

Puisi (7)



“UNTUKMU”

Karya: Fakta P. B. 


Senyuman itu... apakah untukku?
Sederhana namun terlihat sangatlah manis
Terngiang di mimpiku, anganku
Jiwaku...
            Terasa bergetar hebat
            Seperti isi dunia akan menimpaku
            Jika senyum itu menebar
            Apakah arti senyummu itu?
Diriku hanya dapat mengagumi
Membelai sosokmu dari jauh
Bayangmu kerap terlintas dalam sanubari,
namun tak pernah bisa kugapai
Apakah selamanya hanya akan jadi angan?
            Di dirimu hanya ada kata: “sederhana namun spesial”
            Lekukan bibir itu seakan sirnakan bintang-bintang-Nya
            Sita seluruh pikiranku
            Mengendapkan rasa inginku
            ‘tuk terus dapatkanmu
Apakah semuanya darimu untukku?
Entahlah...
Namun kagum ini, untukmu...
yang tak tahu kapan engkau kan hadir di depan kelopak mataku
Hangat dalam dekapan
            Milikku, selamanya....


05-01-2016
*terinspirasi dari: kagumku pada Ratu Vienny Fitrilya*