Kamis, 25 Februari 2016

2 puisi (lagi) karya gue

Kali ini gue pengen memposting karya gue lagi dalam bentuk puisi. Gue pengen nulis apaaa gitu di blog gue ini, tapi malesnya minta ampun. Beberapa cerpen yang gue tulis aja belon kelar2 juga. Padahal dari awal nulis kayaknya semangat menghentak banget, lagi up, trus jiwa pun menggelora (halah!), eehh... pas di pertengahan cerita atau mo masuk ke bagian konflik nyawa serasa ngilang. Jadi kayak mayat hidup aja! Masih ngebet pengen nerusin, tapi niatnya setengah2. Setengah pengen, setengah males.
Yaah, itulah manusia. Ada kalanya kita ngebet dan ngincer sesuatu sampai iler netes kemana2, pengen banget ngelakuin sesuatu yang bermanfaat dan bikin kita nyaman. Tapi semuanya bisa langsung berubah jadi bumerang buat diri kita sendiri. Selagi nulis cerpen, terkadang gue mikir di dalam diri dan kepala gue ini terjadi 3 hal, yaitu:
1. Writers Block (penyakit para penulis, baik pemula maupun yg udah pro)
2. Males (penyakit seluruh umat manusia--paling banyak di Indonesia)
3. Udah mulai bosen sama aktivitas nulis dan cuman bisa ngebaca karya orang lain. Sementara tangan disuruh gerak di keyboard laptop dan kepala suruh nyari ide & inspirasi malah ngabur kayak anak ayam keilangan kandangnya!

Oke, tanpa berlama2 lagi dengan prolog gue yang bernada putus asa dan hanya berisi keluh kesah diriku saja, mendingan langsung pantengin 2 puisi karya gue ini.
CEK DIS AUTH!

***

“TETAPLAH SEPERTI INI”
Karya: Fakta P.B.


Berjalanlah...
Meski mentari kian hari kan tenggelam
Kembali ke peraduan
            Berlarilah...
            Dengan membawa semangat yang membara
            Karena aku menemani
            Meski nantinya nafasku terengah
Ku tak peduli
Diriku masih merasa usia kita masih panjang
Tetaplah berdiri pada lingkaran ini
Lingkaran yang membawa kita pada persahabatan abadi
            Masing-masing manusia nantinya kan terpisah
            Aku tak mau tahu
            Teguhlah pada kuatnya jangkar kapal
            Yang terpaku kuat di balik palung
Kejarlah...
Apa yang kita mau
Agar kita sama-sama bersinar
Melawan keras dunia,
Menghadang kerikil tajam di kalutnya pasir,
Mengusir kabut kelam,
dan menantang matahari yang membakar...
            Aku masih tak peduli...
            Kita harus terus bersama!


14-02-2016
*inspirasi: teman2 SMA-ku (dan setelah melihat video klip “Tokimeki no Ashiato”)*





 “KAULAH BUNGAKU”
Karya : Fakta P.B.


Hingga kini banyak yang telah ku lukiskan
Pada sosokmu...
Hingar-bingarkan dunia khayalku
Tak bosan melayang dalam imaji
Dengan selukis senyum manismu
            Gadis manis...
            Tolong rabalah hatiku
            Karena kata cinta tertulis di situ
Akan ku raih semua
Apa yang ku inginkan
Untuk terus dambakan sosokmu
Dapatkan dirimu
Teruslah hiasi mimpiku, anganku
Dengan pesona ayumu
            Kaulah bungaku...

15-02-2016, 01.43 wib.
 *(inspirasi: paras JM)*
 



 
 

Rabu, 10 Februari 2016

2 puisi baru di bulan Februari

Berhubung minggu2 yang lalu pulsa modem gue selalu abis gara2 download sana-sini, gue yang tadinya niat ngepost di blog jadi ketunda2 melulu. Alhasil, baru sekarang ada kesempatan dan kebetulan lagi inget akhirnya gue ngepost aja. Kali ini, gue pengen memposting 2 puisi hasil karya gue (yang udah gue tulis sebelumnya di Word) di blog kesayangan gue ini.

Selamat membaca!


“SELAMAT MALAM”
Karya: Fakta P.B. 


Hujan menghiasi awan disini 
Basahi jendela rumahmu
Tinggalkan jejak embun yang mengalir perlahan
Pada dedaunan yang kan bersinar pada paginya
Membentuk lekuk senyum manis di ujung bibirmu nanti

           Kini, malam ini...
           Kau ‘kan ku temani
           Dengarkan alunan deras siraman-Nya
           Terpaut pada hati nan sepi

Malam ini kau takkan merasa dingin
Dekaplah daku
Rasakan hangat dalam beku nadiku
Ku biarkan kau terlelap
Kan kubangun kau esok harinya

           Biarlah hujan menemani
           Kau,
           yang tetap dalam pelukku

Bibirku hanya berbisik,
selamat malam....

23-01-2016
*tercetus saat hujan di malam hari di rumahku*
 




***


“KABAR DARI NIRWANA”
Karya : Fakta P.B.  


Ketika Adam terusir dari surga-Nya

Hawa tetap menemani

Di sisinya, selamanya...

Hidup memandang kegersangan yang tercipta

Dalam lini bumi semesta


            Rusuk yang diciptakan telah disediakan

            Bagi laki-laki yang haus akan kasih dan cinta

            Menepis semua kerisauan

            yang terhias dalam buku pedoman

            Terbentuk dari tangan-Nya yang hebat

            Seluruhnya terpasrahkan


Dewi yang mana bagi diri ini?

Hidup ini masih terlihat fana tanpa langkah teman hidup

Kehadirannya kerap isi palung hati


            IA telah mengabarkan

            Bahwasanya setiap insan akan diberi kiriman

            Sebuah bingkisan yang diharapkan,

            Tak ternilai harganya...



Ditulis: 11-02-2016, tengah malam.

Inspirasi: “Kirana”—Dewa 19